Respon pariwisata di Bali terhadap perkembangan di Era Globalisasi saat ini

Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya melakukan berbagai perbaikan dan mengembangkan pariwisata di bali guna mendukung target 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019

Bali mengembangkan Pariwisata Budaya, karena kebudayaan merupakan paling potensial bagi kehidupan masyarakatnya, berakar sangat mendalam dalam sejarahnya dan mempunyai peradaban tua dan ini dapat dikembalikan sejarahnya pada permulaan tahun masehi dan tersebar secara meluas, Modal dasar adalah kebudayaan berfungsi secara normatif dan operasional. Sebagai normatif peranan kebudayaan diharapkan mampu dan potensial dalam memberikan identitas, pegangan dasar, pola pengendalian, sehingga keseimbangan dan ketahana budaya juga diharapkan mampu menjadi daya tarik utama bagi peningkatan pariwisata. Ini memberi petunjuk betapa pentingnya peranan kebudayaan bagi pengembangan pariwisata. Jadi bukan berarti kebudayaan untuk pariwisata tetapi sebaliknya pariwisata untuk kebudayaan. Dan kebudayaan disini bukan hanya berfungsi untjk dinikmati, tetapi juga sebagai media untuk membawa saluing pengertian dan hormat menghormati.Daya tarik Bali adalah dengan kebudayaannya yang unik dan merakyat. Kehidupan kebudayaannya adalah menyatunya agama, kebudayaan, adat yang harmonis, cipta, rasa dan karsa sebagai unsur budi daya manusia menonjol mengambil bentuk keagamaan, estetika dan etika (seni budaya, solidaritas, gotong royong rasa kebersamaan). Pelaksanaan upacara-upacara keagamaan mewariskan potensi ketrampilan dalam seni budaya dan disiplin rohani tekun bekerja dan taat pada norma-norma kehidupan masyarakat.Bali telah mulai menginjak dunia kepariwisataan mulai tahun 1927 sampai sekarang dan telah menjadi pusat pariwisata yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 61% lebih tertarik pada kebudayaan dan 32,8% pada keindahan pemandangan alam flora dan fauna dan sisanya 5,37% pada hal-hal lain.Dalam peningkatan pariwisata, beberapa elemen kebudayaan dan peristiwa kebudayaan telah berperan antara lain :

  1. Sebagai sarana dan media promosi kepariwisataan baik yang langsung di dalam maupun di luar negeri.
  2. Sebagai atraksi yang mencakup pertunjukan kesenian, pameran kesenian, Khusu dengan hal ini pelaksanaan Pesta Kesenian Bali telah berlangsung 10 (sepuluh) tahun dan memberi arti dan nilai yang sangat mendalam.
  3. Sebagai obyek wisata dengan aneka ragam corak khas sebagai kepurbakalaan, obyek kesejahteraan pura, puri desa-desa kuno, museum (etnografi, subak, yadnya, lukisan dan lain-lainnya).
Dalam konteks memahami respon wisatawan, akan dijelaskan siapa wisatawan itu. Pemerintah mengeluarkan UU No. 10 tahun 2009 yang menyatakan wisatawan adalah “orang yang melakukan wisata”. Wisatawan sering disebut sebagai orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungannya itu (Spillane, 1993). Organisasi pariwisata dunia juga memberikan suatu definisi terkait wisatawan. Wisatawan merupakan orang atau sekelompok orang yang melakukan perjalanan untuk rekreasi atau liburan. Seorang wisatawan melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi (UNWTO, 2011). Berdasarkan berbagai pengertian wisatawan itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian mengenai wisatawan berisi beberapa hal, di antaranya: pertama tempat tinggal asal wisatawan dan lokasi tujuan wisata, kedua jangka waktu dan jarak perjalanan, ketiga tujuan dan kepentingan melakukan perjalanan (Pitana, 2005). Dalam konteks sosiologis, perubahan persepsi serta motivasi wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata terus menerus mengalami perubahan. Menurut Plog (dalam Pitana, 2005), wisatawan dapat dikelompokkan berdasarkan tipologi wisatawan yaitu allocentris

Perlu ide -ide yang brilian oleh pengusaha dan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata Bali, baik dari segi infrastruktur maupun penambahan destinasi baru sehingga tidak ada kesan menoton dalam perkembangan pariwisata Bali.

Suatu pembaruan juga dapat memberikan daya tarik yang baru bagi wisatawan agar mereka tidak cepat berpaling ke daerah lain.
Untuk bisa mencapai target itu, perlu ada kerjasama yang bagus antara sesama pemangku kebijakan dan semua stagholder pariwisata dalam mengembangkan pariwisatanya. Pemerintah perlu menekankan agar pelaku pariwisata lebih mengantisipasi perubahan situasi sehingga dapat mengambil langkah-langkah untuk menghadapi makin ketatnya persaingan si era global saat ini.

Memang pada era milineal saat ini, pariwisata di bali tidak bisa lagi bergerak lambat namun harus cepat. Jika tidak pariwisata di bali akan mengalami penurunan. Bali mau tak mau harus meregulasi lagi kebijakan pemasaran pariwisatanya bila tak ingin ditinggalkan wisatawan. Era globalisasi dapat diakui juga membuat persaingan merebut hati wisatawan datang ke bali makin ketat. Bila pemerintah bali tak mau berbenah dengan menderegulasi kebijakan pemasaran sektor pariwisatanya, bali diyakini tidak akan mampu mencapai target seperti yang dicanangkan pemerintah. Untuk bisa mencapai target itu, perlu ada kerjasama yang bagus antara sesama pemangku kebijakan dan semua stagholder pariwisata dalam mengembangkan pariwisatanya.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started